2

Islam Normatif Dan Historis

Kata “Islam” bagi semua orang , khususnya kaum Muslim sangat tidak asing. Tapi Islam yang bagaimanakah yang kita kenal?

Kata “Islam” bagi semua orang , khususnya kaum Muslim sangat tidak asing. Tapi Islam yang bagaimanakah yang kita kenal? Selama ini Islam banyak dipahami sebagai suatu agama yang mewajibkan shalat dan puasa. Artinya jika sudah mendengar Islam, pasti bayangan seseorang sudah menuju pada pemaknaan sakral dan pada simbol tertentu. Seperti masjid, orang berjubah, bawa tasbih, identik dengan pondok pesantren dan sebagainya.

Melihat pemahaman seperti itu, Islam sepertinya hanya sebuah agama yang formalistik. Isinya hanya tentang ibadah dan hanya berhubungan dengan Tuhan. Jika pemahaman mengenai Islam hanya sebatas itu, maka gejala-gejala seperti eksklusifme, anarkisme , tradisionalisme dan bahkan dapat menimbulkan pengkafiran, tidak dapat di hindari. Karena mereka menganggap pandangannya paling benar.

Begitu juga, jika Islam hanya dilihat dengan satu pandangan atau satu sisi, dengan hanya mengacu pada Fiqh misalnya, hal tersebut menunjukkan begitu sempitnya Islam. Atau dilihat dari sudut pandang aliran, Islam terdiri dari berbagai madzhab yang berbeda. Bisa juga dibedakan menurut keotentikannya, misalkan Islam di Makkah lebih asli. Karena Islam lahir di sana. Hal-hal seperti itu membuat pengertian Islam sangat sempit dan menjadi sempit.
[post_ads]
Padahal kenyataannya, Islam tidak hanya sebatas pengertian agama, tapi juga sebagai suatu fenomena masyarakat. Jika ingin memahami Islam secara universal, tentunya kita tidak bisa hanya menggunakan satu dari berbagai pancaran mutiara Islam.  Oleh karena itu, untuk memahami Islam secara keseluruhan diperlukan pendekatan yang mencakup atau meliaht Islam dari berbagai aspeknya. Dimana penulis akan membagi berbagai aspek tersebut menjadi dua bagian pembahasan, seperti apa yang dijelaskan dalam dalam bukunya Abudin Nata, yaitu normatif dan historis.

Pendekatan yang dimaksud penulis adalah pendekatan filosofis. Dimana pendekatan ini akan melihat Islam dari berbagai aspeknya. Dengan metode berfikir secara filosofis, diharapkan akan menemukan Islam yang sebenarnya.

Sekilas Tentang Makna Islam

Secara bahasa Islam berasal dari kata bahasa Arab, salima, yang mengandung arti selamat, sentosa dan damai. Dari kata salima, selanjutnya menjadi aslama  berserah diri masuk dalam kedamaian. Islam juga berasal dari kata aslama yang berarti sama dengan sallama yang berarti meyerahkan sesuatu, menyerah diri pada kekuasaan orang lain, meninggalkan orang di bawah kekuasaan orang lain, meninggalkan (seseorang) bersama (musuhnya), berserah diri kepada (Tuhan); menurut As-Shihhah, al-Muhkam, Ibn Atsir, Taj al-Arus.

Dan juga sama dengan istaslama, yang artinya menyerah, meyerahkan diri, pasrah, memasuki perdamai. Sayyed Ali Akbar Quraisyi menunjukkan tiga arti aslama yaitu : berserah diri, mengikhlaskan dan masuk Islam dan juga mendefinisikan sebagai penyerahan lahir dan batin  Sedangkan dalam pengertian istilahnya, sebagaimana harun nasution mendefinisikan (Islam sebagai agama) yaitu agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada nabi Muhammad saw sebagai rasul.

Dari kata-kata tersebut terlihat tingkatan-tingkatan Islam yaitu tingkat kepasrahan. Seperti yang ditulis oleh Al-Mushtafawi yaitu kepasrahan dalam amal lahiriyah (gerak badan), menjadikan diri sesuai dengan amal, niatnya dan menghilangkan kontradiksi antara semuanya. Tidak mengurusi eksistensi pada tingkatan ini, menyatu dengan yang haqq. Dari pengertian bahasa tersebut, kita dapat mengetahui bahwa Islam mengadung arti, patuh, tunduk, taat dan berserah diri pada Tuhan. Diharapkan makna dari kata “Islam”juga sesuai dengan pembahsan ini

Metode Dalam Memahami Islam

Islam sebagaimana sudah disinggung di atas sangatlah universal. Dipandang sebagai sebuah agama, Islam juga beragam. Hal tersebut terlihat dari beberapa madzhab yang ada di dalamnya. Dari fenomena masyarakat, Islam terlihat sebagai pandangan hidup yang sudah membumi dan mempengaruhi cara pandang dalam kehidupan masyarakat.

Sudah sedikit disinggung dalam pendahuluan bahwa penulis akan menjelaskan memahami Islam dalam berbagai dimensinya yang tercakup dalam normatifitas dan historisitas Islam, karena seperti yang telah dikatakan Ali Syari’ati bahwa jika kita meninjau Islam dari satu sudut pandang saja, maka yang terlihat hanya satu dimensi saja. Dan kepincangan metodologi dalam memahami Islam tidak dapat terhindarkan.


Sebelum itu, sedikit informasi bahwa para pemikir Islam seperti Ali Syari’ati, Nasruddin Razak dan Mukti Ali juga mempunyai distribusi penting dalam mengutarakan pandangan mereka mengenai metode pemahaman Islam. Ali Syari’ati menawarkan sebuah metode komparasi. Yaitu dengan mengkomparasikan Tuhan Islam (Allah swt) dengan sesembahan agama lainnya. Dan membandingkan kitab suci Al-Qur’an dengan kitab suci agama lain dan pendekatan aliran.

Tokoh yang lain juga memiliki metode dalam hal ini. Metode tipologi (Mukti Ali) beberapa metode dari Nasruddin yaitu memahami Islam dari sumbernya alqur’an dan hadits, memahami Islam secara integral, mempelajari literatur-literatur tokoh-tokoh besar Islam dan lain sebagainya. Semua itu menurut penulis dapat dimasukkan dalam dua pendekatan besar yaitu normatif dan historis.

Dengan mengacu dua pembahasan besar yaitu memahami Islam dari dua sudut pandang normatif dan historis. Dimana dua pendekatan tersebut tidak dapat dipisahkan.

Islam Normatif & Historis

Yang dimaksud dengan Islam normatif di sini adalah suatu pendekatan untuk memahami Islam dengan melalui ajaran atau doktrin-doktrin Islam. Dapat juga dijelaskan dengan pengertian lain yaitu Islam pada dimensi sakral, yang diakui adanya realitas transendental, yang bersifat mutlak dan universal, melampaui ruang dan waktu atau sering disebut sebagai realitas ke-Tuhan-an. Yang tentunya sudah tercakup dalam kitab suci al-Qur’an dan hadits.
[post-ads_2]
Dengan mempelajari Islam yang terkandung dalam al-Qur’an dan hadits kita akan memperoleh pelajaran-pelajaran yang orisinil. Dalam tataran normatif Islam meliputi berbagai hal, diantaranya adalah tauhid dan aqidah sebagai inti dari ajaran Islam itu sendiri. Selanjutnya akan normatifitas mencakup hal-hal seperti fiqih, tasawuf dan sebagai hasil pemahaman dari teks al-Qur’an tersebut. Kaitannya dengan konteks ini, Islam dipahami menjadi sebuah agama yang diyakini masyarakat.

Dari sisi normatif , Islam dipahami sebagai sebuah keyakinan. Pertanyaan-pertanyaan atau pun jawaban-jawaban ontologi dari sebuah agama pun dipahami dengan dasar keyakinan, bukan suatu proses pemikiran yang logis. Seperti pertanyaan “ siapakah yang menciptakan alam ini?” jawabannya adalah Tuhan. Jawaban tersebut termasuk jawaban agamis atau teologis bukan rasional. Karena sudah ada konsep bahwa Tuhan itu kebenaran absolut.

Hal ini membuat akal seseorang menjadi terpinggirkan untuk berperan dalam keyakinannya sendiri. Tapi menurut para penyiar agama, pemahaman ini sangatlah penting bagi kalangan pemeluk yang masih awam. Keyakinan itu tidak hanya terdapat dalam Islam melainkan dalam semua agama. Semua agama pasti berisi tentang keyakinan. Dengan pemahaman yang seperti itu, maka nantinya akan terbangun suatu penjelasan rasional. Seperti pendapat Auguste comte bahwa bangunan suatu agama yang didasarkan pada suatu akal pikiran, pada dasarnya adalah benar-benar tidak masuk akal . Setelah kepercayaan tertata, secara perlahan akan dipahami hakikat simbol-simbol agama, seperti ritual dan sebagainya.

Kembali pada normatifitas Islam, bahwa dari segi normatif ajaran Islam sudah tercakup dalam kitab suci al-Qur’an. Dimana didalamnya tercakup berbagai persoalan atau dengan kata lain, al-Qur’an meliputi banyak dimensi. Sebagiannya telah dipelajari oleh banyak kalangan sarjana. Misalkan, dimensi yang mengandung aspek-aspek linguistik dan sastra al-Qur’an. Dan banyak dimensi lainnya yang berkaitan dengan persoalan historis, sosiologis dan historis.

Para sarjana Islam yang ahli dalam bidang-bidang tertentu dapat memberi kontribusi dalam memahami apa yang terkandung dalam al-Quran. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa berbagai aspek dalam al-Qur’an, jika dipelajari secara keseluruhan akan diharapkan mendapat pemahaman Islam secara menyeluruh dan komprehensif.

Ternyata pernyataan itu belum menjadi sebuah metode mengenal Islam secara komprehensif. Kita juga harus melihat Islam dalam konteks sejarah dan perkembangannya yang terangkai dalam kehidupan masyarakat yang memeluknya. Inilah yang disebut Islam historis. Dari segi historis, yakni Islam dalam arti yang dipraktekkan oleh manusia dan berkembang dalam sejarah kehidupan manusia, maka Islam dapat dikatakan sebagai sebuah disiplin Ilmu, yaitu Ilmu Keislaman atau Islamic Studies.

Dari perkembangan sejarahnya Islam menjadi sebuah disiplin Ilmu. Sebagai contoh sains Islam yang dikemukakan Hussein Nasr merupakan sains  yang dikembangkan oleh muslimin sejak abad kedua hingga sembilan masehi. Sains Islam  mencakup berbagai pengetahuan modern seperti kedokteran, matematika, astronomi, fisika  dan sebagainya yang dibangun atas nilai-nilai keislaman.

Islam dilihat dari sudut historisitasnya juga mencakup berbagai aspek yang ditimbulkan dari praktek sejarah. Sebagaimana dalam buku Islam di tinjau dari berbagai aspeknya,  harun nasution menjelaskan berbagai aspek dalam Islam. Antara lain aspek ibadah, spiritual, moral, aspek sejarah, aspek politik, mistik, filsafat dan lain sebagainya. Begitu juga Fazlur rahman mengemukakan bahwa Islam memiliki aspek hukum, teologi, syari’ah, filsafat, tasawuf dan pendidikan.

Oleh karena itu, jika kita dapat mengkaji Islam dengan melihat semua sisi dalam sejarah baik itu sebagai disiplin Ilmu atau fenomena keagamaan masyarakat, maka akan didapatkan pengetahuan tentang Islam secara komprehensif. Sebaliknya jika kita mengkaji Islam dari satu atau dua sudut pandang saja, akan dapat menimbulkan pemahaman Islam yang pincang. Sebagai contoh, memahami Islam hanya dari sejarah perkembangan, akan didapati sebuah praktek kepemimpinan pada masa muawiyyah yang otoriter. Dan hanya menjadi sebuah pemahaman Islam bahwa Islam adalah agama yang disebarkan oleh pedang kekejaman dan kekuasaan yang sewenang-wenang.

Akhirnya dari penjelasan di atas  didapatkan kesimpulan bahwa dua sudut padang tersebut (normatif dan historis) tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Mengutip metode pemahan Islam dari Nasruddin Razak bahwa Islam hendaknya dipelajari dari ketentuan normatif teologis yang ada dalam al-Qur’an, baru kemudian dihubungkan dengan kenyataan historis, empiris, dan sosiologis yang ada dalam masyarakat.

Karena kita tidak dapat menafikkan kenyataan ini. Kenyataan dimana kita hidup dalam ruang dan waktu. Kita hidup terdiri dari jasmani dan rohani. Kenyataan tersebut merupakan sebuah media untuk mengamalkan ajaran-ajaran teologis normatif yang ada dalam al-Qur’an. Jika melihat dalam pandangan Amin Abdullah, dia menyimpulkan bahwa Islam dapat dilihat dari dua sisi yaitu Islam normatiF dan historis. Jika melihat Islam dari sisi historis maka Islam dapat menjelma sebagai disiplin ilmu dan jika dilihat dari sisi normatif, Islam menjadi sebuah agama.

Tapi berbeda dengan kesimpulan mukti Ali, bahwa melihat Islam yang diajarkan para ulama tradisional, memahami Islam dengan cara doktriner. Hal itu akan menyebabkan kesalahan penafsiran jika dikaitkan dengan masalah kontemporer. Begitu juga jika hanya memahami Islam hanya dengan pendekatan ilmiah akademis, sebagaimana yang digeluti para orientalis. Hal itu akan mengakibatkan pemahaman Islam tidak utuh dan sebatas segi luarnya saja. Maka Mukti ali menganjurkan menggunakan dua pendekatan yang dimaksud.

Dengan begitu akan diharapkan menghasilkan kesesuaian antara Islam dalam tataran normatif teologis dan historis empiris. Dan hal itu akan semakin mengukuhkan bahwa Islam adalah agama semua zaman. Dan dapat menjawab berbagai persoalan terkait masalah kehidupan kontemporer.

Dari berbagai penjelasan di atas, mendapatkan kesimpulan bahwa dalam memahami Islam tidak dapat digunakan satu atau dua sudut pandang saja. Melainkan berbagai sudut pandang yang termaktub dalam dua pandangan besar, yang sudah jelas di atas. Dengan begitu akan menghasilkan pengertian Islam secara filosofis. Artinya mendapatkan makna hakikat Islam yang sebenarnya.

Wujud dari pemahaman tersebut akan dapat  mengembangkan wawasan yang luas dan mendalam dalam memahami agama sehingga pesan fundamental agama dapat dikembangkan untuk memperteguh kemanusiaan di tengah-tengah kehidupan yang bergolak. tulisan diambil dari http://islamalternatif.com

COMMENTS

Nama

Anekdot,10,Blogging,2,Cerpen,6,Cuaca,70,Download,24,Hong Kong,30,Iklan,3,Indonesia,2,Inspirasi,82,Islam,411,Kesehatan,66,Konsultasi,12,Kuliner,61,Malaysia,2,News,437,Opini,238,Orang Hilang,6,Pernik,22,Pojokbmi,298,Ponorogo,4,Resep,8,Singapura,2,Taiwan,66,Tekno,51,Unik,2,Wirausaha,13,Wisata,26,
ltr
item
DE-YUAN.COM ~ Media Online TKI: Islam Normatif Dan Historis
Islam Normatif Dan Historis
Kata “Islam” bagi semua orang , khususnya kaum Muslim sangat tidak asing. Tapi Islam yang bagaimanakah yang kita kenal?
https://1.bp.blogspot.com/-KR4lPG7KJYw/WLKYzfQ2EhI/AAAAAAAAHYA/MbCclaq78Sg08Jm6DBw2RNmGJ6y3F7PiACLcB/s640/Islam%2BNormatif%2B%2526%2BIslam%2BHistoris.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-KR4lPG7KJYw/WLKYzfQ2EhI/AAAAAAAAHYA/MbCclaq78Sg08Jm6DBw2RNmGJ6y3F7PiACLcB/s72-c/Islam%2BNormatif%2B%2526%2BIslam%2BHistoris.jpg
DE-YUAN.COM ~ Media Online TKI
http://www.de-yuan.com/2017/02/islam-normatif-dan-historis.html
http://www.de-yuan.com/
http://www.de-yuan.com/
http://www.de-yuan.com/2017/02/islam-normatif-dan-historis.html
true
4981504600613212983
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy